Jumat, 28 Februari 2014

Perjudian Baru Group Bakrie

Majalah Stabilitas, 28 Pebruari 2014,

Kelompok usaha Bakrie memang tak pernah sepi dari kontroversi. Namun dengan pengaruh pemiliknya di bidang ekonomi dan politik, semuanya selalu bisa dilewati. Kini, konglomerasi itu mulai memperkuat lini bisnis telekomunikasi dan media, lewat sayap globalnya dengan membeli saham path, sebuah media sosial privat yang berjalan di perangkat mobile. Langkah ini mengundang beragam tanggapan terutama karena kerajaan bisnis itu tengah terlilit utang dan sederet masalah yang belum diselesaikan. Tengok saja laporan keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), induk bisnis kelompok tersebut, yang menyatakan utang perseroan kini mencapai Rp 6,44 triliun. Sebuah jumlah yang banyak meski telah menurun dibanding jumlah jumlahnya pada 2011 yang mencapai Rp 10,71 triliun. Namun Bakrie masih tetap bertahan berkat kemampuannya menggunakan strategi gali lubang tutup lubang. Jika ditelisik lebih dalam, banyak dari 10 anak usahanya yang hingga sekarang masih mengidap penyakit tersebut. Bakrie terbiasa membayar utang milik perusahaan, dengan mencari debitor baru. Awal tahun ini, kontroversi itu terbit lagi ketika Bakrie Group mencoba memperluas ekspansi bisnis di sektor teknologi informasi (IT) dengan menjadi satu investor baru perusahaan aplikasi jejaring sosial, Path. Untuk aksi tersebut, Bakrie menggelontorkan dana sebesar 25 juta dollar AS melalui Bakrie Global Grup. Padahal kelompok bisnis itu masih memiliki kewajiban kepada nasabah asuransi PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) yang merasa ditipu oleh perusahaan. Belum lagi korban-korban kasus lumpur Lapindo yang hingga sekarang ganti ruginya belum kunjung selesai. Itu belum termasuk beberapa perusahaannya yang masih berdarah-darah. Bakrie memang bukan pemain baru di sektor IT, karena punya anak usaha PT Bakrie Telecom, Tbk. Namun, pemilik merek dagang esia ini sedari didirikan tidak pernah meraup laba. Per September 2013 saja membukukan kerugian bersih hingga Rp1,52 triliun, naik dibanding periode yang sama tahun 2012 di posisi Rp988,25 miliar. Akan tetapi, alih-alih mengembangkan anak usahanya itu hingga dapat mencicipi laba, Grup Bakrie malah berinvestasi di jejaring sosial Path. Maka dari itu, banyak kalangan terkejut dengan aksi ini mengingat salah satu lini usahanya di bisnis telekomunikasi, Bakrie Telecom tengah kelimpungan dengan utang mencapai Rp9,4 triliun.

Langkah itu, tak pelak membuat nasabah Bakrie Life makin sakit hati. Pasalnya, sejak Oktober 2008, asuransi milik Grup Bakrie ini dinyatakan gagal bayar sehingga dana nasabah senilai Rp360 miliar pun tak jelas penggantiannya. Salah satu perwakilan Nasabah Bakrie Life asal Jakarta menceritakan kisahnya. “Dana kami tak kunjung kembali. Kami sudah dirugikan sejak Oktober 2008. Sabar? Bagaimana bisa bersabar jika melihat aksi Grup Bakrie yang mengejutkan,” kata nasabah tersebut. “Tiba-tiba mereka investasi di Path Rp 300 miliar. Apakah ini tidak membuat kami sakit hati?” imbuh pria yang tak mau disebutkan namanya itu. Bakrie Life mengalami gagal bayar pada tahun 2008 sebesar Rp360 miliar kepada nasabah Diamond Investa. Perkembangan kini, utang Bakrie Life ke nasabah tinggal Rp 270 miliar dan menyusut jadi Rp130 miliar. Namun karena kesulitan likuiditas Bakrie Life belum juga bisa melunasi.

Analis dari Milenium Danatama Sekuritas, Probo Sudjono menilai aksi Bakrie Grup di bisnis aplikasi lumayan berisiko. “Ini kategori bisnis high risk high return, walaupun keuntungannya besar namun sebanding risikonya,” kata dia. Menurutnya, jumlah pengguna Path yang tergolong banyak di Indonesia tak bisa begitu saja dijadikan sebagai pertimbangan dan masih butuh analisis lebih dalam. “Para pengguna Path saat ini menunggu apakah kedatangan Bakrie mampu membawa inovasi,” katanya. Pengamat telekomunikasi Teguh Prasetya mengingatkan bermain di aplikasi tak semudah menggelar jaringan di bisnis telekomunikasi. “Kalau operator itu mudah hitunganya. Satu BTS investasi berapa, terus dihitung trafik yang dihasilkan. Kalau aplikasi, sudah digelontorkan duit besar belum tentu dia mendatangkan keuntungan. Lihat saja Twitter, sampai sekarang rugi terus walau pendapatannya tumbuh terus” kata dia.

Buah Simalaka

Masuknya Bakrie ke Path jelas merupakan perjudian bagi Bakrie tetapi bagi Path yang beberapa bulan lalu baru mem-PHK 20 persen karyawannya masuknya Bakrie tentu merupakan kabar gembira apalagi Bakrie membawa 25 juta dollar AS atau sekitar Rp 304 miliar. Namun demikian, media sosial itupun langsung terpapar risiko ditinggal penggunanya, mengingat berbagai kasus Bakrie, terutama soal lumpur Lapindo, tidak disukai oleh masyarakat Indonesia. Karenanya, bisa jadi, kegembiraan Dave Morin, pendiri Path, tidak berlangsung lama. Indonesia memang dikenal sebagai salah negara yang cukup terdepan dalam menggunakan Path. Dari sekitar 20 juta pengguna aktif harian, Indonesia menyumbang setengah dari jumlah itu. “Jumlah pengguna Path di sini (Indonesia) bahkan lebih besar dari Amerika Serikat. Kurang lebih 4 juta pengguna aktif,” ujar Morin. Media sosial satu ini memang unik, karena menyasar segmen muda agar mereka tetap terhubung dengan keluarga dan teman-teman dekat, karena jumlah teman dalam sebuah akun hanya dibatasi hingga 150 akun saja. Setelah diumumkan bahwa konglomerasi itu membeli Path lewat Bakrie Global Group, para pengguna menanggapi negatif. Beberapa akun bahkan menyuarakan agar para pengguna Path segera meng-uninstall aplikasi itu. Memang, tanggapan negatif itu belum terlihat mempengaruhi profil pengguna Path. Namun kalau berkurang terus-menerus, maka masukknya Bakrie akan menjadi bumerang bagi Path sendiri. Sejauh ini, Path mengaku masih memantau dampak dari masuknya Bakrie Global Group sebagai investor dalam perusahaannya menyusul ramainya gerakan pengguna Path Indonesia untuk meng-uninstall Path. “Kami memonitor sentimen dan mencoba untuk mengerti apa yang menjadi perhatian dan hal positif,” kata CEO Path, Dave Morin, sebagaimana dilansir Recode.net. Di sisi lain, entah ada hubungannya atau tidak dengan reaksi buruk pengguna Path setelah bergabungnya Bakrie, kini jejaring sosial yang tengah naikk daun itu diserang pesan spam. Akun Twitter Path memberikan peringatan kepada pengguna terkait ‘jumlah kecil’ dari pengguna yang diserang pesan spam. Pesan spam ini diyakini berupa pesan pribadi, yang dikirim ke pengguna Path dari pihak yang tidak diketahui atau pengguna palsu. Ini adalah pertama kalinya Path mengalami gangguan pesan spam seperti ini, atau hanya berjarak hitungan hari sejak Bakrie Global Group menanamkan investasinya di Path. The Next Web melansir, ini mungkin terjadi karena investasinya terkesan sebagai permainan politik belaka jelang Pemilihan Umum 2014. Dalam Pemilu 2014 ini Aburizal Bakrie menjadi kandidat presiden Indonesia berikutnya. Ekosistem Bisnis Digital Seolah tidak menghiraukan cibiran masyarakat dan juga sebagian pengguna Path di Indonesia, manajemen Bakrie Global Grup tetap bersikukuh di lini bisnis baru yang dijajalnya itu. Chief Executive Officer (CEO) Bakrie Global Group, Anindya N. Bakrie, mengungkapkan, investasi di bisnis jejaring sosial ini merupakan komitmen Bakrie Group membangun ekosistem bisnis digital. Dia menjelaskan, saat ini, Bakrie Group telah memiliki dua stasiun televisi dengan segmen yang berbeda dan media online viva.co.id dengan 25 juta pengguna. “Kami memang senang bermain di bisnis TMT (technology, media, and telecommunications), karena memungkinkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik,” kata Anindya. Menurut dia, platform yang dimiliki Bakrie Group saat ini di bisnis media sudah ada di mobile dan online, tetapi belum ada di media sosial. “Nah, investasi di Path ini untuk menembus building block bisnis media yang kami punya selama ini.”. Dia menambahkan, bisnis media digital dinilai memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang. Setelah sebelumnya, bisnis cenderung berbasis pada perdagangan komoditas. Lalu, mengapa Path? Anindya menuturkan, Path sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia, yang di antaranya menghargai nilai-nilai budaya. Namun bukan kebetulan, yang menjalankan Path adalah teman-temannya saat kuliah di Stanford University. Selain Bakrie Global Group, investor yang sudah ada dan juga kembali ikut dalam pendanaan di Path adalah Greylock Partners, Kleiner Perkins, Index Ventures, Insight Venture Partners, Redpoint Venture Partners, dan First Round Capital. Pendanaan baru ini menambah total investasi di Path sebesar 65 juta dollar AS atau setara dengan Rp790,4 miliar. Sementara Presiden Direktur Bakrie Telecom Jastiro Abi membuka sedikit strategi perseroan pasca grup usahanya ikut berinvestasi di Path. “Ini bagian dari strategi grup di bidang telekomunikasi, media, dan teknologi (TMT) yang sudah diumumkan pada awal 2011 lalu,” ungkap dia. Berdasarkan catatan, TMT diusung dengan mengkonvergensikan tiga lini usaha yakni bisnis Telekomunikasi yang diwakili oleh BTEL, Media (Viva Group), serta Teknologi melalui Bakrie Connectivity (BConn) dan Bakrie Network (BNET). Dua perusahaan terakhir ini adalah anak usaha dari BTEL.
Ketika mengenalkan transformasi ini, Bakrie menjelaskan bahwa hal itu sudah diaplikasikan dalam strategi layanan BTEL 2.0: More Than Just Talk. Layanan itu tidak hanya layanan suara, tapi juga akses data di mana pelanggan bisa menikmati solusi mobilitas secara keseluruhan dengan harga yang paling terjangkau. Dalam salah satu taktik TMT memang disebutkan kala itu adanya keinginan memperkaya konten dengan menggandeng pengembang aplikasi global dan mendorong pemain lokal melalui inkubasi. “Kita tetap konsisten dengan strategi TMT. Saya kan sudah kasih sinyal kita akan bekerjasama dengan pemain aplikasi untuk membesarkan esia. Kami juga akan memiliki produk Over The Top (OTT) sendiri atau bekerjasama dengan eksisting OTT. Jika bekerjasama dengan OTT, menggunakan skema revenue sharing,” tambah Abi. Terkait kerugian yang diderita Esia, Abi menjelaskan, hal itu lebih banyak terjadi karena rugi kurs dan di atas buku. “Ini kan karena ada depresiasi rupiah, kita tak bisa prediksi. Kita kan ambil utang kala dollar AS di Rp 9 ribuan. Tetapi kami optimistis pada tahun ini kerugian akan lebih rendah ketimbang tahun lalu,” tegasnya. Diungkapkannya, perseroan tengah mengaji sejumlah strategi terkait utang senilai total Rp9,4 triliun. Opsi yang tengah dikaji adalah share swap, rights issue, extend maturity atau refinancing. “Kami sudah tunjuk FTI Consulting untuk melihat semuanya soal utang ini. Semua pihak yang terlibat soal utang ini menunjukkan optimisme dengan masa depan perseroan,” jelas Abi. Bakrie Telekom hingga akhir tahun lalu masih membukukan kerugian bersih lebih dari Rp1 triliun. Meski begitu, manajemen masih optimistis secara operasional membaik karena laba usaha positif ke Rp101 miliar dan memiliki pendapatan sebelum pajak dan penyusutan (EBITDA) Rp770 miliar. Esia adalah operator telekomunikasi yang hanya memiliki 11,4 juta pelanggan yang terdiri atas 700 ribu pelanggan data dan 10,7 juta pelanggan layanan suara dan SMS. Sedangkan pendapatan rata-rata per pengguna Rp 19 ribu per pengguna di kuartal III 2013. Saat ini perseroan memiliki 3.008 BTS, terdiri atas 2.066 BTS di wilayah Jawa Barat, Jabodetabek dan Banten, sedangkan 942 lain di luar daerah tersebut. Abi juga mengungkapkan, perseroan menyiapkan belanja modal sekitar 25 juta dolar AS hingga 30 juta dolar AS untuk menopang operasionalnya pada tahun 2014. “Kami berjanji mulai aktif lagi di pasar untuk memperkuat kinerja operasional agar bisa bertahan di pasar seluler nasional,” ungkap dia. Dipaparkannya, perseroan akan fokus di pasar menggenjot jasa data karena kontribusi layanan ini tak mencapai target di 2013. “Kontribusi jasa data tidak seperti ditargetkan di awal tahun yakni sebesar 8 persen – 10 persen bagi total omzet. Kami ingin aktif lagi di pasar agar pada 2015 kontribusi layanan ini bisa mencapai 50 persen bagi omzet,” jelasnya.

Oleh: Marwan

Minggu, 16 Februari 2014

Bakrie Life Tak Punya Aset

JPNN.COM 16 - 02 - 2014, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya membuka tabir alasan belum ditutupnya asuransi PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Pengawas industri keuangan di tanah air itu menyatakan bahwa Bakrie Life masih mempunyai janji untuk menyelesaikan kewajibannya kepada nasabah.
Namun, di sisi lain, asuransi yang bangkrut bersamaan dengan krisis keuangan global tersebut sebetulnya sudah tidak memiliki aset untuk dilikuidasi. "Kenapa tidak dicabut (izinnya) karena kami berupaya menjembatani kontrak perusahaan dan nasabah untuk pelunasan pembayaran," terang Kepala Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani seperti dikutp dari Jawa Pos, Sabtu (15/2).
Menurut dia, upaya untuk menyelamatkan kewajiban perseroan kepada nasabah itu justru bakal gagal jika Otoritas mencabut izin Bakrie Life. Sebab, lanjut dia, dengan tidak adanya aset yang dapat dilikuidasi, proses pembayaran ke­wajiban kepada nasabah akan sulit dilakukan. Penutupan yang dilakukan terpaksa itu justru memudahkan salah satu gurita bisnis keluarga Bakrie tersebut untuk angkat tangan.
Padahal, saat ini dari total kewajiban sekitar Rp 400 miliar. Diperkirakan, utang Bakrie Life masih mencapai Rp 182 miliar. Deposito wajib Bakrie Life kepada OJK hanya mencapai Rp 10 miliar.
"Dengan begini, Bakrie Life tinggal menyelesaikan komitmennya. Jika ada uang, bayar lagi (ke nasabah). Tapi, tetap ada upaya likuidasi dan terus berjalan," terangnya.
Umumnya, izin perusahaan asuransi dicabut karena dinilai gagal dalam usaha penyehatan. Misalnya, tidak mampu lagi memenuhi kesempatan untuk mencari investor baru. Dengan demikian, jika terjadi upaya likuidasi, akan ada pembagian aset perusahaan untuk memenuhi kewajiban. Namun, kasus Bakrie Life tersebut cukup spesifik. Sebab, selain dinilai tidak mempunyai aset, di satu sisi, ada kontrak perdata antara perusahaan dan nasabahnya.
Meski demikian, Bakrie Life tidak bisa serta merta mengartikan kontrak itu sebagai "nyawa kedua" bagi perusahaan. Sebab, Firdaus berjanji tidak akan ada lagi kesempatan bagi perusahaan yang sakit.
"Perusahaan kelihatan sakit saja su­dah akan kami paksa merger. Kami tidak akan menunggu aset mendekati kewajiban. Solvabilitas tinggal 60 persen langsung akan kami pindahkan. Kami punya wewenang itu," tegasnya.
Saat ini tingkat solvabilitas atau rasio yang menggambarkan kemampuan melunasi kewajiban jangka panjang perusahaan asuransi minimal adalah 120 persen. Bakrie Life terpukul oleh krisis keuangan pada 2008 karena sebagian besar portofolio perseroan diinvestasikan pada saham di pasar modal yang ambruk. Akibatnya, Bakrie Life mengalami gagal bayar kepada nasabah produk Diamond Investa.(gal/c18/sof)

Senin, 10 Februari 2014

OJK Panggil Bakrie Life soal Klaim Nasabah

JAKARTA, 10 - 02 - 2014, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan pihaknya telah memanggil manajemen Bakrie Life untuk diminta menyelesaikan kewajiban klaimnya kepada nasabah. Pasalnya hingga Januari, anak usaha Bakrie Group tersebut masih memiliki utang sebesar Rp 260 miliar. Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan Dumoly Pardede mengatakan pihaknya telah memanggil manajemen Bakrie Life dalam satu dua minggu kemarin. "Kami panggil manajemen, kami imbau untuk membayar kewajiban mereka," ujar Dumoly pada Rabu (5/2/2014).
Ia mengatakan bahwa persoalan Bakrie Life adalah janji pemegang saham untuk membayar kewajiban kepada nasabah. Namun janji tidak tersebut tidak kunjung ditepati. Kemudian OJK memanggil pemegang saham dana manajemen.
Dumoly mengatakan, jawaban manajemen Bakrie Life adalah akan berkonsultasi dengan pemegang saham terkait penyelesaian kewajiban mereka tersebut. Namun sayangnya, Dumoly mengaku tidak mengetahui pasti rencana pembayaran tersebut.
Seperti yang diberitakan KONTAN pada 27 Januari lalu, Bakrie Life masih memiliki tunggakkan sebesar Rp 260 miliar. Tunggakan itu terdiri dari Rp 110 miliar dari produk diamond investa dan Rp 150 miliar sisanya dari produk lain.
Catatan saja, sejak dinilai gagal bayar pada 2009, Bakrie Life memiliki total kewajiban kepada nasabah sebesar Rp 400 miliar.
Adapun untuk bisa melunasi kewajiban tersebut, pihak Bakrie Life mengaku memiliki aset berupa tanah seluas 87 hektar di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto, mengaku kesulitan untuk menjual tanah itu. Selain itu pihaknya mengaku masih memiliki deposito sebesar Rp 35 miliar. (Benediktus Krisna Yogatama)

Senin, 27 Januari 2014

Bakrie Life Ingin Bayar Dana Nasabah, Tapi Apa Daya Tangan Tak Sampai

Detik Finance, 27 - 01 - 2014, Jakarta -Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) harus dihadapkan kenyataan pahit. Pasalnya, manajemen tak punya uang sepeserpun untuk mengganti dana yang sekitar Rp 260 miliar.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengaku, manajemen sudah mencari berbagai cara untuk bisa membayar dana nasabah. Termasuk menjual aset-aset berupa tanah dan lainnya.

Namun tetap saja hasrat hati memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai.

"Ya pak susah (menjual aset). Group cari usaha lain juga," kata Timoer saat dihubungi detikFinance, Senin (27/1/2014).

Menurut Timoer, pihaknya juga tidak mengetahui apa rencana Bakrie Group untuk membantu dana nasabah tersebut. Ia pun mengakui utang kepada nasabah saat ini bersisa Rp 260 miliar.

"Group cari usaha lain tapi bentuknya apa juga kami tidak dalam posisi jawab. Mohon maaf. Sisa utang nasabah sekitar Rp 260 miliar," tegas Timoer.

Sejak Oktober 2008, Asuransi yang dimiliki Grup Bakrie ini menderita gagal bayar. Alhasil dana senilai Rp 360 miliar untuk nasabah Diamond Investa tak jelas penggantiannya. Saat ini utang Bakrie kepada nasabah Diamond Investa hanya tinggal Rp 110 miliar. Sisanya Rp 150 miliar untuk produk lain.

Lucunya, Grup Bakrie baru saja berinvestasi di jejaring sosial Path senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar. Hal ini justru membuat sakit hati para nasabah.

Salah satu perwakilan Nasabah Bakrie Life asal Jakarta menceritakan kisahnya.

"Dana kami tak kunjung kembali. Kami sudah dirugikan sejak Oktober 2008. Sabar? Bagaimana bisa bersabar jika melihat aksi Grup Bakrie yang mengejutkan (investasi di Path)," kata nasabah tersebut.
(dru/ang)

Kamis, 13 September 2012

Pengamat: Lunasi Tagihan, Bakrie Life Sebaiknya Jual Aset

JAKARTA, KOMPAS.com 13/9/2012- Kasus gagal bayar dana nasabah yang melibatkan PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) memasuki babak baru. Kabarnya, perusahaan milik keluarga Bakrie ini mulai ditawarkan ke investor. Nantinya, investor baru itu bakal mengambil alih bisnis perasuransian di Bakrie Life serta menangani kasus ganti rugi produk gagal bayar itu yakni Diamon Investa. Sebenarnya, keinginan agar masalah ini diserahkan ke perusahaan asuransi lain telah menjadi harapan para nasabah. Soalnya, nasabah sudah tidak percaya lagi dengan manajemen dan pemilik Bakrie Life. Maklum, mereka selalu ingkar janji membayar dana pengembalian nasabah. Kini berembus kabar, PT Prudential Life Assurance Indonesia yang bakal mengakuisisi Bakrie Life. Sayangnya, manajemen Prudential Life enggan memberi penjelasan. Nini Sumohandoyo, Direktur Corporate Marketing dan Komunikasi serta William Kuan selaku Presiden Direktur Prudential Indonesia tidak merespons e-mail maupun pesan singkat yang dikirimkan oleh KONTAN, kemarin. Sementara Timoer Sutanto, Direktur Utama Bakrie Life belum mau buka suara. Dia tidak membantah maupun mengelak terkait adanya investor yang sedang didekati oleh Bakrie Life. Ia hanya bilang, saat ini pihaknya masih dalam proses pembicaraan dengan investor. Dia tidak mau membocorkan perkembangannya karena terkait kode etik proses bisnis. Kesepakatan dengan investor itu masih butuh waktu lama dan proses panjang. Timoer pun menegaskan, pihaknya masih berkomitmen menyelesaikan utang ke nasabah Diamon Investa. Namun, pihaknya terkendala masalah likuiditas. "Tapi kami punya aset," imbuh dia tanpa merinci bentuk aset itu. Agar masalah ini segera terselesaikan, portofolio aset itu akan dijual ke pihak lain yang punya likuiditas cukup. Pihak lain itulah yang akan bertanggungjawab menyelesaikan utang ke nasabah. Soal skema penyelesaian, tergantung si investor. "Apakah diganti produk atau apa, itu terserah kepada investor," kata Timoer. Sulit berlangsung Pengamat asuransi Herris Simanjuntak mengatakan, ada dua tipe akuisisi di industri asuransi, yakni mengakuisisi perusahaan dan bisnis. Dalam hal ini, Bakrie Life kemungkinan akan diakuisisi secara bisnis. Artinya portofolio bisnis Bakrie Life akan diambil alih oleh perusahaan lain. Namun, tidak termasuk kepemilikan sahamnya. Meski begitu, Herris pesimistis Bakrie Life akan diambil alih secara bisnis. Sebab perusahaan tersebut terkendala masalah likuiditas. Padahal, akuisisi bisnis mengharuskan pihak yang diakuisisi membayar kepada pihak yang berminat. Sebab perusahaan yang berminat nantinya akan mengambil tanggung jawab Bakrie Life. Herris menegaskan, perusahaan yang akan mengakuisisi pasti berpikir panjang. Maklum, tanggung jawab yang dimiliki Bakrie Life sangat banyak. Kalaupun Bakrie Life punya aset, akan lebih mudah dicairkan saja untuk membayar tunggakan ketimbang tanggung jawabnya diserahkan kepada investor. "Kalau benar masih punya aset, mendingan dicairkan, lalu dibayarkan ke nasabah," kata mantan direktur utama PT Asuransi Jiwasraya ini. Sekadar informasi, Bakrie Life masih memiliki tunggakan pengembalian dana senilai Rp 224 miliar kepada sekitar 250 nasabah. Awalnya tunggakan ke nasabah mencapai Rp 360 miliar. (Feri Kristianto/Kontan)

Selasa, 11 September 2012

OJK Meminta Kasus Bakrie Life Diselesaikan

TEMPO.CO 11/9/2012 -  Jakarta– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menuntaskan kasus-kasus emiten yang tak menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai perusahaan publik. Salah satunya adalah kasus penyelesaian PT Asuransi Jiwa Bakrie atau Bakrie Life yang terkatung-katung sejak empat tahun lalu.

"Kasus-kasus ini saya minta segera diselesaikan akselerasinya di pasar modal," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad Senin 10 September 2012. Menurut dia, kasus dana nasabah Bakrie Life sampai saat ini belum juga rampung. "Jika tidak selesai, memang bisa dilimpahkan (ke OJK)."

Hanya, jika kasus itu dilimpahkan, kata Muliaman, OJK mempelajari kasus tersebut dari awal. Dengan demikian, penyelesaian kasus tersebut membutuhkan waktu yang lebih panjang. "Intinya, kami ingin diselesaikan sebelum mereka (Bapepam) gabung ke OJK," ujarnya.

Seperti diketahui, sekitar 250 nasabah menanamkan dana di Diamond Investa, produk Bakrie Life. Namun Bakrie Life mengalami kasus gagal bayar saat terjadi krisis ekonomi global pada 2008. Total kerugian sebesar Rp 360 miliar. Bakrie Life sudah meneken perjanjian dengan nasabah Diamond Investa dan Bapepam tentang skema pembayaran utang produk asuransi berbasis investasi itu.

Sesuai dengan perjanjian, skema pembayarannya berupa pengembalian dana pokok sebesar 25 persen pada 2010, 25 persen pada 2011, dan sisanya 50 persen dilunasi pada 2012. Sebanyak 25 persen dana pokok pada 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan. Demikian juga pada 2011. Sisanya, 50 persen, dibayar langsung pada Januari 2012.

Hingga akhir Maret lalu, Bakrie Life baru membayar dana pokok sebesar 16 persen. Sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa yang belum dibayar adalah per September 2010 sampai dengan Januari 2012. Sesuai dengan SKB, pembayaran utang dan cicilan bunganya harus dilunasi selambatnya pada 31 Januari 2012. Hingga kini, janji itu belum ditepati.

Kepada majalah Tempo, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto enggan menjelaskan kewajiban kepada nasabah. "Masih dalam proses, belum bisa diinfokan," kata dia.

Selasa, 04 September 2012

Dana Nasabah Tak Dilunasi, Bos Bakrie Life Ngaku Tak Punya Uang

Jakarta - Detik Finance - 4/9/2012 - PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mengaku tak punya dana untuk melunasi cicilan dana pokok nasabah Diamond Investa. Manajemen Bakrie Life sendiri juga tak akan tahu sampai kapan dana para nasabahnya akan kembali sejak ditempatkan sejak 2008 tersebut.

"Kami memang masih menunggu dropping dana dari pemegang saham. Masih dicarikan pendanaanya dan sepertinya tidak mudah," kata Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto ketika dihubungi detikFinance, Selasa (4/9/2012).

Menurut Timoer, pihaknya sendiri tengah mengalami kesulitan. Oleh sebab itu pemegang saham yakni PT Bakrie Capital Invesment (BCI) tengah mencarikan jalan terbaik.

"Sekarang ini memang masih dicarikan jalan karena memang likuiditas seret tapi group masih punya aset non cash," tutur Timoer.

Seperti diberitakan, kasus gagal bayar produk Diamond Investa milik PT Asuransi Jiwa Bakrie sudah berlangsung sejak akhir 2008 hingga kini perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut belum melunasi dana para nasabahnya. Bakrie Life baru melunasi dana pokok nasabah kurang lebih hanya 15%, total utang Bakrie Life tercatat Rp 360 miliar.

Bakrie Life memang hanya mengumbar janji-janji palsunya. Dana pokok nasabah Diamond Investa yang direncanakan dicicil 25% per tahun tidak juga dibayar padahal sudah memasuki 2012.

Selama 2011 berarti Bakrie Life tidak mencicil sama sekali.Bakrie Life baru membayar 2,5 kali dana pokok yaitu Maret 2010, Juni 2010, dan September 2010. Total sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa Bakrie Life yang belum dibayar yaitu per September 2010 sampai dengan Januari 2012.