JAKARTA, 10 - 02 - 2014, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan pihaknya telah memanggil manajemen Bakrie Life untuk diminta menyelesaikan kewajiban klaimnya kepada nasabah. Pasalnya hingga Januari, anak usaha Bakrie Group tersebut masih memiliki utang sebesar Rp 260 miliar. Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan Dumoly Pardede mengatakan pihaknya telah memanggil manajemen Bakrie Life dalam satu dua minggu kemarin. "Kami panggil manajemen, kami imbau untuk membayar kewajiban mereka," ujar Dumoly pada Rabu (5/2/2014).
Ia mengatakan bahwa persoalan Bakrie Life adalah janji pemegang saham untuk membayar kewajiban kepada nasabah. Namun janji tidak tersebut tidak kunjung ditepati. Kemudian OJK memanggil pemegang saham dana manajemen.
Dumoly mengatakan, jawaban manajemen Bakrie Life adalah akan berkonsultasi dengan pemegang saham terkait penyelesaian kewajiban mereka tersebut. Namun sayangnya, Dumoly mengaku tidak mengetahui pasti rencana pembayaran tersebut.
Seperti yang diberitakan KONTAN pada 27 Januari lalu, Bakrie Life masih memiliki tunggakkan sebesar Rp 260 miliar. Tunggakan itu terdiri dari Rp 110 miliar dari produk diamond investa dan Rp 150 miliar sisanya dari produk lain.
Catatan saja, sejak dinilai gagal bayar pada 2009, Bakrie Life memiliki total kewajiban kepada nasabah sebesar Rp 400 miliar.
Adapun untuk bisa melunasi kewajiban tersebut, pihak Bakrie Life mengaku memiliki aset berupa tanah seluas 87 hektar di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto, mengaku kesulitan untuk menjual tanah itu. Selain itu pihaknya mengaku masih memiliki deposito sebesar Rp 35 miliar. (Benediktus Krisna Yogatama)
Dokumentasi perjuangan nasabah Diamond Investa Bakrie Life untuk mendapatkan Dana Simpanan dari Asuransi Jiwa Bakrie Life, Bakrie Grup
Senin, 10 Februari 2014
Senin, 27 Januari 2014
Bakrie Life Ingin Bayar Dana Nasabah, Tapi Apa Daya Tangan Tak Sampai
Detik Finance, 27 - 01 - 2014, Jakarta -Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) harus dihadapkan kenyataan pahit. Pasalnya, manajemen tak punya uang sepeserpun untuk mengganti dana yang sekitar Rp 260 miliar.
Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengaku, manajemen sudah mencari berbagai cara untuk bisa membayar dana nasabah. Termasuk menjual aset-aset berupa tanah dan lainnya.
Namun tetap saja hasrat hati memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai.
"Ya pak susah (menjual aset). Group cari usaha lain juga," kata Timoer saat dihubungi detikFinance, Senin (27/1/2014).
Menurut Timoer, pihaknya juga tidak mengetahui apa rencana Bakrie Group untuk membantu dana nasabah tersebut. Ia pun mengakui utang kepada nasabah saat ini bersisa Rp 260 miliar.
"Group cari usaha lain tapi bentuknya apa juga kami tidak dalam posisi jawab. Mohon maaf. Sisa utang nasabah sekitar Rp 260 miliar," tegas Timoer.
Sejak Oktober 2008, Asuransi yang dimiliki Grup Bakrie ini menderita gagal bayar. Alhasil dana senilai Rp 360 miliar untuk nasabah Diamond Investa tak jelas penggantiannya. Saat ini utang Bakrie kepada nasabah Diamond Investa hanya tinggal Rp 110 miliar. Sisanya Rp 150 miliar untuk produk lain.
Lucunya, Grup Bakrie baru saja berinvestasi di jejaring sosial Path senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar. Hal ini justru membuat sakit hati para nasabah.
Salah satu perwakilan Nasabah Bakrie Life asal Jakarta menceritakan kisahnya.
"Dana kami tak kunjung kembali. Kami sudah dirugikan sejak Oktober 2008. Sabar? Bagaimana bisa bersabar jika melihat aksi Grup Bakrie yang mengejutkan (investasi di Path)," kata nasabah tersebut.
(dru/ang)
Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengaku, manajemen sudah mencari berbagai cara untuk bisa membayar dana nasabah. Termasuk menjual aset-aset berupa tanah dan lainnya.
Namun tetap saja hasrat hati memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai.
"Ya pak susah (menjual aset). Group cari usaha lain juga," kata Timoer saat dihubungi detikFinance, Senin (27/1/2014).
Menurut Timoer, pihaknya juga tidak mengetahui apa rencana Bakrie Group untuk membantu dana nasabah tersebut. Ia pun mengakui utang kepada nasabah saat ini bersisa Rp 260 miliar.
"Group cari usaha lain tapi bentuknya apa juga kami tidak dalam posisi jawab. Mohon maaf. Sisa utang nasabah sekitar Rp 260 miliar," tegas Timoer.
Sejak Oktober 2008, Asuransi yang dimiliki Grup Bakrie ini menderita gagal bayar. Alhasil dana senilai Rp 360 miliar untuk nasabah Diamond Investa tak jelas penggantiannya. Saat ini utang Bakrie kepada nasabah Diamond Investa hanya tinggal Rp 110 miliar. Sisanya Rp 150 miliar untuk produk lain.
Lucunya, Grup Bakrie baru saja berinvestasi di jejaring sosial Path senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar. Hal ini justru membuat sakit hati para nasabah.
Salah satu perwakilan Nasabah Bakrie Life asal Jakarta menceritakan kisahnya.
"Dana kami tak kunjung kembali. Kami sudah dirugikan sejak Oktober 2008. Sabar? Bagaimana bisa bersabar jika melihat aksi Grup Bakrie yang mengejutkan (investasi di Path)," kata nasabah tersebut.
Kamis, 13 September 2012
Pengamat: Lunasi Tagihan, Bakrie Life Sebaiknya Jual Aset
JAKARTA, KOMPAS.com 13/9/2012- Kasus gagal bayar dana nasabah yang melibatkan PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) memasuki babak baru. Kabarnya, perusahaan milik keluarga Bakrie ini mulai ditawarkan ke investor. Nantinya, investor baru itu bakal mengambil alih bisnis perasuransian di Bakrie Life serta menangani kasus ganti rugi produk gagal bayar itu yakni Diamon Investa.
Sebenarnya, keinginan agar masalah ini diserahkan ke perusahaan asuransi lain telah menjadi harapan para nasabah. Soalnya, nasabah sudah tidak percaya lagi dengan manajemen dan pemilik Bakrie Life. Maklum, mereka selalu ingkar janji membayar dana pengembalian nasabah.
Kini berembus kabar, PT Prudential Life Assurance Indonesia yang bakal mengakuisisi Bakrie Life. Sayangnya, manajemen Prudential Life enggan memberi penjelasan.
Nini Sumohandoyo, Direktur Corporate Marketing dan Komunikasi serta William Kuan selaku Presiden Direktur Prudential Indonesia tidak merespons e-mail maupun pesan singkat yang dikirimkan oleh KONTAN, kemarin.
Sementara Timoer Sutanto, Direktur Utama Bakrie Life belum mau buka suara. Dia tidak membantah maupun mengelak terkait adanya investor yang sedang didekati oleh Bakrie Life.
Ia hanya bilang, saat ini pihaknya masih dalam proses pembicaraan dengan investor. Dia tidak mau membocorkan perkembangannya karena terkait kode etik proses bisnis. Kesepakatan dengan investor itu masih butuh waktu lama dan proses panjang.
Timoer pun menegaskan, pihaknya masih berkomitmen menyelesaikan utang ke nasabah Diamon Investa. Namun, pihaknya terkendala masalah likuiditas. "Tapi kami punya aset," imbuh dia tanpa merinci bentuk aset itu.
Agar masalah ini segera terselesaikan, portofolio aset itu akan dijual ke pihak lain yang punya likuiditas cukup. Pihak lain itulah yang akan bertanggungjawab menyelesaikan utang ke nasabah.
Soal skema penyelesaian, tergantung si investor. "Apakah diganti produk atau apa, itu terserah kepada investor," kata Timoer.
Sulit berlangsung
Pengamat asuransi Herris Simanjuntak mengatakan, ada dua tipe akuisisi di industri asuransi, yakni mengakuisisi perusahaan dan bisnis. Dalam hal ini, Bakrie Life kemungkinan akan diakuisisi secara bisnis. Artinya portofolio bisnis Bakrie Life akan diambil alih oleh perusahaan lain. Namun, tidak termasuk kepemilikan sahamnya.
Meski begitu, Herris pesimistis Bakrie Life akan diambil alih secara bisnis. Sebab perusahaan tersebut terkendala masalah likuiditas. Padahal, akuisisi bisnis mengharuskan pihak yang diakuisisi membayar kepada pihak yang berminat. Sebab perusahaan yang berminat nantinya akan mengambil tanggung jawab Bakrie Life.
Herris menegaskan, perusahaan yang akan mengakuisisi pasti berpikir panjang. Maklum, tanggung jawab yang dimiliki Bakrie Life sangat banyak. Kalaupun Bakrie Life punya aset, akan lebih mudah dicairkan saja untuk membayar tunggakan ketimbang tanggung jawabnya diserahkan kepada investor. "Kalau benar masih punya aset, mendingan dicairkan, lalu dibayarkan ke nasabah," kata mantan direktur utama PT Asuransi Jiwasraya ini.
Sekadar informasi, Bakrie Life masih memiliki tunggakan pengembalian dana senilai Rp 224 miliar kepada sekitar 250 nasabah. Awalnya tunggakan ke nasabah mencapai Rp 360 miliar. (Feri Kristianto/Kontan)
Selasa, 11 September 2012
OJK Meminta Kasus Bakrie Life Diselesaikan
TEMPO.CO 11/9/2012 - Jakarta– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menuntaskan kasus-kasus emiten yang tak menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai perusahaan publik. Salah satunya adalah kasus penyelesaian PT Asuransi Jiwa Bakrie atau Bakrie Life yang terkatung-katung sejak empat tahun lalu.
"Kasus-kasus ini saya minta segera diselesaikan akselerasinya di pasar modal," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad Senin 10 September 2012. Menurut dia, kasus dana nasabah Bakrie Life sampai saat ini belum juga rampung. "Jika tidak selesai, memang bisa dilimpahkan (ke OJK)."
Hanya, jika kasus itu dilimpahkan, kata Muliaman, OJK mempelajari kasus tersebut dari awal. Dengan demikian, penyelesaian kasus tersebut membutuhkan waktu yang lebih panjang. "Intinya, kami ingin diselesaikan sebelum mereka (Bapepam) gabung ke OJK," ujarnya.
Seperti diketahui, sekitar 250 nasabah menanamkan dana di Diamond Investa, produk Bakrie Life. Namun Bakrie Life mengalami kasus gagal bayar saat terjadi krisis ekonomi global pada 2008. Total kerugian sebesar Rp 360 miliar. Bakrie Life sudah meneken perjanjian dengan nasabah Diamond Investa dan Bapepam tentang skema pembayaran utang produk asuransi berbasis investasi itu.
Sesuai dengan perjanjian, skema pembayarannya berupa pengembalian dana pokok sebesar 25 persen pada 2010, 25 persen pada 2011, dan sisanya 50 persen dilunasi pada 2012. Sebanyak 25 persen dana pokok pada 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan. Demikian juga pada 2011. Sisanya, 50 persen, dibayar langsung pada Januari 2012.
Hingga akhir Maret lalu, Bakrie Life baru membayar dana pokok sebesar 16 persen. Sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa yang belum dibayar adalah per September 2010 sampai dengan Januari 2012. Sesuai dengan SKB, pembayaran utang dan cicilan bunganya harus dilunasi selambatnya pada 31 Januari 2012. Hingga kini, janji itu belum ditepati.
Kepada majalah Tempo, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto enggan menjelaskan kewajiban kepada nasabah. "Masih dalam proses, belum bisa diinfokan," kata dia.
"Kasus-kasus ini saya minta segera diselesaikan akselerasinya di pasar modal," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad Senin 10 September 2012. Menurut dia, kasus dana nasabah Bakrie Life sampai saat ini belum juga rampung. "Jika tidak selesai, memang bisa dilimpahkan (ke OJK)."
Hanya, jika kasus itu dilimpahkan, kata Muliaman, OJK mempelajari kasus tersebut dari awal. Dengan demikian, penyelesaian kasus tersebut membutuhkan waktu yang lebih panjang. "Intinya, kami ingin diselesaikan sebelum mereka (Bapepam) gabung ke OJK," ujarnya.
Seperti diketahui, sekitar 250 nasabah menanamkan dana di Diamond Investa, produk Bakrie Life. Namun Bakrie Life mengalami kasus gagal bayar saat terjadi krisis ekonomi global pada 2008. Total kerugian sebesar Rp 360 miliar. Bakrie Life sudah meneken perjanjian dengan nasabah Diamond Investa dan Bapepam tentang skema pembayaran utang produk asuransi berbasis investasi itu.
Sesuai dengan perjanjian, skema pembayarannya berupa pengembalian dana pokok sebesar 25 persen pada 2010, 25 persen pada 2011, dan sisanya 50 persen dilunasi pada 2012. Sebanyak 25 persen dana pokok pada 2010 dibayar empat kali setiap akhir triwulan. Demikian juga pada 2011. Sisanya, 50 persen, dibayar langsung pada Januari 2012.
Hingga akhir Maret lalu, Bakrie Life baru membayar dana pokok sebesar 16 persen. Sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa yang belum dibayar adalah per September 2010 sampai dengan Januari 2012. Sesuai dengan SKB, pembayaran utang dan cicilan bunganya harus dilunasi selambatnya pada 31 Januari 2012. Hingga kini, janji itu belum ditepati.
Kepada majalah Tempo, Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto enggan menjelaskan kewajiban kepada nasabah. "Masih dalam proses, belum bisa diinfokan," kata dia.
Selasa, 04 September 2012
Dana Nasabah Tak Dilunasi, Bos Bakrie Life Ngaku Tak Punya Uang
Jakarta - Detik Finance - 4/9/2012 - PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) mengaku tak punya dana untuk melunasi cicilan dana pokok nasabah Diamond Investa. Manajemen Bakrie Life sendiri juga tak akan tahu sampai kapan dana para nasabahnya akan kembali sejak ditempatkan sejak 2008 tersebut.
"Kami memang masih menunggu dropping dana dari pemegang saham. Masih dicarikan pendanaanya dan sepertinya tidak mudah," kata Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto ketika dihubungi detikFinance, Selasa (4/9/2012).
Menurut Timoer, pihaknya sendiri tengah mengalami kesulitan. Oleh sebab itu pemegang saham yakni PT Bakrie Capital Invesment (BCI) tengah mencarikan jalan terbaik.
"Sekarang ini memang masih dicarikan jalan karena memang likuiditas seret tapi group masih punya aset non cash," tutur Timoer.
Seperti diberitakan, kasus gagal bayar produk Diamond Investa milik PT Asuransi Jiwa Bakrie sudah berlangsung sejak akhir 2008 hingga kini perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut belum melunasi dana para nasabahnya. Bakrie Life baru melunasi dana pokok nasabah kurang lebih hanya 15%, total utang Bakrie Life tercatat Rp 360 miliar.
Bakrie Life memang hanya mengumbar janji-janji palsunya. Dana pokok nasabah Diamond Investa yang direncanakan dicicil 25% per tahun tidak juga dibayar padahal sudah memasuki 2012.
Selama 2011 berarti Bakrie Life tidak mencicil sama sekali.Bakrie Life baru membayar 2,5 kali dana pokok yaitu Maret 2010, Juni 2010, dan September 2010. Total sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa Bakrie Life yang belum dibayar yaitu per September 2010 sampai dengan Januari 2012.
"Kami memang masih menunggu dropping dana dari pemegang saham. Masih dicarikan pendanaanya dan sepertinya tidak mudah," kata Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Sutanto ketika dihubungi detikFinance, Selasa (4/9/2012).
Menurut Timoer, pihaknya sendiri tengah mengalami kesulitan. Oleh sebab itu pemegang saham yakni PT Bakrie Capital Invesment (BCI) tengah mencarikan jalan terbaik.
"Sekarang ini memang masih dicarikan jalan karena memang likuiditas seret tapi group masih punya aset non cash," tutur Timoer.
Seperti diberitakan, kasus gagal bayar produk Diamond Investa milik PT Asuransi Jiwa Bakrie sudah berlangsung sejak akhir 2008 hingga kini perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut belum melunasi dana para nasabahnya. Bakrie Life baru melunasi dana pokok nasabah kurang lebih hanya 15%, total utang Bakrie Life tercatat Rp 360 miliar.
Bakrie Life memang hanya mengumbar janji-janji palsunya. Dana pokok nasabah Diamond Investa yang direncanakan dicicil 25% per tahun tidak juga dibayar padahal sudah memasuki 2012.
Selama 2011 berarti Bakrie Life tidak mencicil sama sekali.Bakrie Life baru membayar 2,5 kali dana pokok yaitu Maret 2010, Juni 2010, dan September 2010. Total sisa cicilan pokok dan bunga Diamond Investa Bakrie Life yang belum dibayar yaitu per September 2010 sampai dengan Januari 2012.
Rabu, 08 Agustus 2012
Bakrie Life: Kami janji tidak akan lari
Kontan Online - 8/8/2012 - JAKARTA. Direktur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto berjanji, perusahaan asuransi itu akan menyelesaikan utangnya kepada sekitar 250 nasabah Diamond Investa. Di sini, Bakrie Life akan menggunakan aset yang dimiliki untuk memenuhi tanggung jawabnya ke nasabah.
"Kita enggak punya likuiditas, tapi punya aset. Kami tidak akan lari dari tanggung jawab dan berkomitmen tak memiliki utang. Semuanya sedang diselesaikan," aku Timoer, di Kantor Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Rabu (8/8)
Kini, Bakrie Life tidak mempunyai likuiditas mengingat tak lagi menjual polis asuransi. Kelangsungan hidup Bakrie Life sepenuhnya bergantung pada uluran tangan para pemilik saham.
Kembali ke aset yang dijanjikan, menurut Timoer, aset tersebut berupa tanah yang tak terikat dengan bank. Meskipun tak menyebut secara rinci seberapa luas tanah tersebut, Timoer berusaha meyakinkan, “Kurang lebih setara dengan nilai utang tersebut,” jawabnya.
Dalam menyelesaikan kasus yang tak kunjung rampung, pihak Bakrie Life, nasabah dan Bapepam-LK masih akan berunding lagi. Rencananya pertemuan akan dilakukan pada September awal.
Sebagai informasi, ada sekitar 250 nasabah Danamon Investa. Tahun 2008 saat terjadi krisis ekonomi global, Bakrie Life mengalami gagal bayar dengan total kerugian Rp 360 miliar. Bakrie Life lalu menandatangani SKB dengan nasabah Diamiond Investa dan Bapepam-LK tentang skema pembayaran utang. (Ester Meryana/Kompas.com)
"Kita enggak punya likuiditas, tapi punya aset. Kami tidak akan lari dari tanggung jawab dan berkomitmen tak memiliki utang. Semuanya sedang diselesaikan," aku Timoer, di Kantor Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Rabu (8/8)
Kini, Bakrie Life tidak mempunyai likuiditas mengingat tak lagi menjual polis asuransi. Kelangsungan hidup Bakrie Life sepenuhnya bergantung pada uluran tangan para pemilik saham.
Kembali ke aset yang dijanjikan, menurut Timoer, aset tersebut berupa tanah yang tak terikat dengan bank. Meskipun tak menyebut secara rinci seberapa luas tanah tersebut, Timoer berusaha meyakinkan, “Kurang lebih setara dengan nilai utang tersebut,” jawabnya.
Dalam menyelesaikan kasus yang tak kunjung rampung, pihak Bakrie Life, nasabah dan Bapepam-LK masih akan berunding lagi. Rencananya pertemuan akan dilakukan pada September awal.
Sebagai informasi, ada sekitar 250 nasabah Danamon Investa. Tahun 2008 saat terjadi krisis ekonomi global, Bakrie Life mengalami gagal bayar dengan total kerugian Rp 360 miliar. Bakrie Life lalu menandatangani SKB dengan nasabah Diamiond Investa dan Bapepam-LK tentang skema pembayaran utang. (Ester Meryana/Kompas.com)
Rabu, 25 Juli 2012
NASABAH BAKRIE LIFE: Selama 7 Bulan Hanya Dibayar Kata-Kata
Bisnis - 25/7/2012 - JAKARTA: Nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie menilai perusahaan yang menjual produk Diamond Investa tersebut tidak memberikan tindakan konkrit terhadap kasus pengembalian ratusan dana nasabah.
“Selama 7 bulan ini kami dibayar dengan nihil, hanya perkataan-perkataan. Alasannya mereka tidak punya duit,” kata nasabah Bakrie Life Freddy Kushariono yang memiliki dana Rp1 miliar di perseroan tersebut, Rabu (25/7/2012).
Dia mengemukakan memang itikad baik sudah ditunjukkan direksi dengan rutin melakukan pertemuan bersama nasabah setiap dua minggu sekali sejak Februari 2012. Hanya, nasabah menyayangkan kedatangan direksi tidak dengan janji kongkrit.
“Pak Timoer Soetanto [Direktur Utama Bakrie Life] tidak pernah menghindar selama pertemuan itu, tap kami sayangkan kedatangannya itu tidak dengan janji kongkrit untuk membayar kewajibannya,” katanya.
Freddy menambahkan hasil pertemuan terakhir nasabah dengan perusahaan di Bapepam LK pada hari ini pun tidak menuai hasil yang memuaskan.
Menurutnya, rapat yang dimediasi oleh regulator itu hasilnya cukup minim. “Kami sekarang meminta supaya disediakan dana untuk kami menghadapi lebaran nanti,” ujarnya
“Selama 7 bulan ini kami dibayar dengan nihil, hanya perkataan-perkataan. Alasannya mereka tidak punya duit,” kata nasabah Bakrie Life Freddy Kushariono yang memiliki dana Rp1 miliar di perseroan tersebut, Rabu (25/7/2012).
Dia mengemukakan memang itikad baik sudah ditunjukkan direksi dengan rutin melakukan pertemuan bersama nasabah setiap dua minggu sekali sejak Februari 2012. Hanya, nasabah menyayangkan kedatangan direksi tidak dengan janji kongkrit.
“Pak Timoer Soetanto [Direktur Utama Bakrie Life] tidak pernah menghindar selama pertemuan itu, tap kami sayangkan kedatangannya itu tidak dengan janji kongkrit untuk membayar kewajibannya,” katanya.
Freddy menambahkan hasil pertemuan terakhir nasabah dengan perusahaan di Bapepam LK pada hari ini pun tidak menuai hasil yang memuaskan.
Menurutnya, rapat yang dimediasi oleh regulator itu hasilnya cukup minim. “Kami sekarang meminta supaya disediakan dana untuk kami menghadapi lebaran nanti,” ujarnya
Langganan:
Komentar (Atom)